Minggu, 20 Desember 2015

Fitrah Manusia

FITRAH MANUSIA

Manusia adalah sosok yang sempurna. Ia diciptakan dalam keadaan suci dan bersih sebagaimana selembar kertas putih yang tidak ada coretan apapun.

Fitrah yang ada pada diri manusia adalah pembawaan sejak lahir, sifat ataupun naluri untuk bertindak pada sesuatu yang positif dan tertanam padanya ketauhidan dalam beragama. Tetapi persoalannya, mengapa manusia berbuat hal yang negatif, membahayakan pada dirinya atau orang lain ?

Sebelum membahas pertanyaan diatas. Saya ajak anda melihat keadaan orang-orang disekeliling kita. Ada sebagian dari mereka yang berani membantah orang tuanya, menampar atau sampai berani membunuhnya. Naudzubillah Min Dzalik. Apa hal tersebut tidak menyalahi fitrah manusia ? Begitu juga, ada sebagian mereka yang kedua orang tuanya keturunan baik-baik. Bekerja keras mulai dari masih muda mereka mengumpulkan harta sampai banyak. Tetapi, harta mereka sedikit demi-sedikit dihabiskan sama anaknya. Orang tua memberi nasehat kepadanya, tidak ia dengarkan dan ia bantah nasehatnya. Astaghfirullah,, Berani amat tuh anak pada orang tuanya. Apa ada yang salah dari didikan orang tuanya ? Mungkin gak pernah disekolahkan ? atau gak pernah dididik agama ?
Timbullah pertanyaan demi pertanyaan dari anda. Dari tadi pertanyaan terus gak ada jawabannya Hahaha (Sabar bro...!)

Dalam agama disebutkan :
Kullu mauluudin yuuladu 'alaa fithrootil islaam illaa anna abawaahu yuhawwidaanihi aw yunasshiroonihi aw yumajjisaanihi
"Setiap anak yang lahir itu dalam keadaan suci (islam), kecuali kedua orang tuanya menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi".
Dalil dalam agama itu sudah benar. Manusia atau anak yang terlahir itu suci sebagaimana penjelasan diatas.
Namun, pada kenyataannya manusia banyak yang berbuat dzolim dan aniaya. Itu semua karena didikan yang salah. Entah dari orang tua atau gurunya. Anak adalah amanah yang suatu saat akan diambil oleh yang memberi amanah.

Benar itu semua dari didikan yang salah sehingga anak yang menjadi korbannya. Mungkin sebagian dari anda masih kurang senada dengan apa yang saya katakan. Anda berkata : Saya sudah mendidiknya dengan baik. Saya suruh ia sholat. Saya larang ia berlaku kasar pada orang lain. Bahkan mungkin anaknya udah sarjana, tapi kenyataannya, ia nggak pernah sholat, dan sama orang tuanya sendiri berlaku kasar apalagi sama orang lain. Maka, Saya katakan : Didikan yang baik itu tidak hanya serta merta memerintahnya pada kebaikan dan melarangnya berlaku buruk. Yang lebih dari itu adalah contoh dari pada orang tua atau guru pendidik. Anda pernah dengar ungkapan "Anak itu lebih condong meniru perbuatan orang tuanya dari pada ucapannya". Dan tidak hanya itu, Didikan yang baik kepada anak bukan hanya ketika ia sudah terlahir di dunia. Melainkan saat ia masih berada dikandungan ibunya atau bahkan masih belum jadi benih. Orang tua yang mungkin dulunya nakal, bertindak negatif seperti korupsi, suka memfitnah dll. Sedangkan ia belum sesungguhnya taubat. Maka anak yang lahir dari orang tua seperti ini jangan disalahkan perbuatan-perbuatan negatif darinya.

Maka, berusahalah dari sekarang menjadi pribadi yang baik, sebagaimana fitrah kita sebagaimana manusia adalah makhluk yang sempurna. Dan akan terlahir dari benih-benih kita manusia-manusia  yang amanah sebagai khalifah di muka bumi. Amin.

Kesimpulan :
(1) Fitrah manusia adalah suci, putih dan bersih
(2) Orang tua atau Guru pendidik bertanggung jawab atas prilaku anaknya atau muridnya
(3) Orang tua dan Guru yang sudah maksimal dalam mendidik, mendoakan dan memberi contoh yang baik serta taubat dari keburukan masa lalu, ternyata anaknya masih menyimpang dari prilaku positif, maka itu sudah bukan menjadi tanggung jawabnya.
(4) Lingkungan sekitar yang tidak sadar menjadikan ia berprilaku positif
atau negatif
(5) Berbuat baiklah dari sekarang. Sebab, anak lebih condong meniru perbuatan orang tua atau Gurunya dari pada nasehatnya.
23:42 Selasa, 8 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar