Kamis, 19 Juni 2014

Jumat 19

فاستبقوا الخيرات.
Balapan nang KeApik'an

Konco-konco, mundak kelas e kudu tambah mundak kebagusane,keapik'ane, kesolehane.

Lek ndisek, tas melbu pondok gak tau sholat duha, saiki kudu iso solat.......

Lek ndisek Jama'ah e gak sregep, saiki kudu.........

Lek ndisek adab e elek,mundak suwe mondok e kudu tambah mundak.......

Ngendikan al Habib Taufiq bin Abdul Qodir As Segaf Pasuruan (Ayah beliau Gurune Mbah Hamid Pasuruan) :

Kemanfaatan Ilmu hanya bisa diperoleh dengan "Adab".

Jumat, 30 Mei 2014

Mekanisme

Mekanisme Terbentuknya Alam Semesta
olah bahasa : Nursodik el
          Dengan menerobos pandangan kita ke alam semesta, memandangi langit malam yang cerah tampa cahaya bulan, maka akan menimbulkan kesan dan kekaguman kita  mengenai luas dan megahnya alam semesta. Langit tampak penuh taburan bintang yang seolah tidak terhitung jumlahnya. Struktur dan luas alam semesta sangat sukar dibayangkan manusia, dan progres persepsi dan rasionalitas manusia tentang itu, memerlukan waktu berabad-abad. Akibatnya, diskripsi pemandangan alam semesta pun beragam.
          Rasa keingintahuan manusia sejak dulu sampai sekarang merupakan satu faktor yang melatarbelakangi penggalian teori tentang terbentuknya alam semesta. Barangkat dari itu, maka muncullah berbagai pertanyaan dalam benak manusia. Bagaimanakah alam semesta tidak terbatas tempat kita tinggal ini terbentuk? Bagaimanakah keseimbangan, keselarasan dan keteraturan jagad raya ini berkembang? Bagaimanakah bumi ini menjadi tempat tinggal yang tepat dan berlindung bagi kita manusia? Aneka pertanyaan semacam ini, telah menari perhatian sejak ras manusia bermula. Para ilmuan dan filsuf yang yang mencari jawaban dengan kecerdasan dan akal sehat mereka sampai pada kesimpulan bahwa rancangan dan keteraturan alam semesta merupakan bukti keberadaan pencipta semesta Mahatinggi yang menguasai seluruh jagad raya.

          Bertitik tolak dari latar belakang di atas, dalam makalah ini kami berusaha memberikan deskripsi konkret dalam memahami proses terbentuknya alam semesta. Oleh karena itu kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1.    Bagaimana proses alam semesta bisa terbentuk dari kaca mata sains ?
2.    Bagaimana proses terbentuknya alam semesta dari kaca mata Al-Qur’an ?


1.  Pembentukan Alam Semesta Dari Kaca Mata Sains

     Kita telah banyak mengenal bahwa terdapat banyak teori yang berkembang mengenai pembentukan alam semesta, seiring dengan perkembangan pemikiran manusia dan kemajuan sains yang menyokongnya. Diantara salah satu teori yang  berkembang dan sempat mendapat tanggapan dari masyarakat dunia adalah hipotesis kabut atau teori kondensasi (pengentalan) yang dikemukakan oleh filosof Jerman, Immanuel Kant, pada tahun 1755.[1] Namun, dari sekian banyak teori yang berkembang, teori yang paling terkenal dan sampai saat ini masih dapat dipertangguangjawabkan kebenarannya adalah teori Bigm Bang atau ledakan besar. Teori ini kemudian akan kami diskripsikan dalam makalah kami ini dengan sub tema Pembentukan Alam Semesta Dari Kaca Mata Sains.
          Pada dasarnya, fakta tentanng teori Big Bang secara teoritis telah ditemukan sejak awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuan terbesar abad 20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis, tetapi ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu.[2]
          Pada awal terciptanya, alam semesta memiliki ukuran tidak terhingga kecil (menuju nol) namun kerapatan materinya sangat tinggi. Baru setelah 10-43 detik (satu per sepuluh juta triliun triliun triliun detik) dari ledakan situasi jagad raya  dapat diakses dengan teori-teori  fisika mutakhir. Diperkirakan pada saat itu, temperatur jagad raya mencapai 1032 K atau sepuluh triliun triliun lebih tinggi dari temperatur inti matahari. Peiode yang dimiulai pada saat 0 hingga 10-43 detik dikenal sebagai periode (masa) Planck.
          Setelah masa Planck, alam semesta memasuki masa Penggabungan Agung (Grand Unification). Pada masa ini, semua gaya fundamental kecuali gaya grafitasi sama kuatnya.saat itu alam semesta belum berisi apa-apa  kecuali sup plasma dengan temperatur lebih dari seratus ribu triliun triliun Kelvin. Periode ini tidak berlangsung lama dan alam semesta mengalami inflasi (pengembangan secara cepat) yang diakhiri dengan pemisahan gaya lemah dan gaya elektromagnetik. Setelah kedua macam gaya tersebut terbedakan, sup plasma panas berubah menjadi sub elektron-quak beserta partikel-partikel pembawa gaya elektrolemah. Partikel-partikel tersebut eksis di alam semesta bersama anti partikel mereka yang jika bergabung akan bertransformasi menjadi radiasi dan sebaliknya radiasi yang ada dapat segera berubah menjadi partikel dan anti-partikel. Seperseratus ribu detik setelah ledakan temperatur alam semesta turun menjadi 10 triliun atau sekitar seribu kali lebih panas dari temperatur pusat matahari. Pada saat ini, sub quark berkondensasi menjadi proton dan netron yang merupakan komponen dasar dari nukleus atau inti atom.
          Kurang lebih tiga menit kemudian, temperatur terus menurun menjadi satu milyar Kelvin. Energi kinetik yang dihasilkan temperatur sebesar ini sudah tidak mampu lagi menahan gaya nuklir kuat antara proton dan netron yang selanjutnya bergabung menjadi nucleus-nucleus ringan. Proses ini dinamakan sebagai proses nukleosentesis. Proton dan netron bergabung menjadi nukleus deuterium. Deuterium kemudian menangkap sebuah netron membentuk inti tritium. Selanjutnya tritium bergabung dengan sebuah proton menjadi inti helium. Proses ini terus berlanjut hingga berubah menjadi inti atom Lithium, namun dengan peluang yang semakin kecil. Dengan demikian teori Big Bang meramalkan kelimpahan hidrogen dan helium di dalam alam ini.
          Setelah tiga menit pertama berlalu, tidak banyak perubahan yangh terjadi kecuali temperatur terus menurun dan alam semesta semakin besar hingga usia jagad raya mencapai 300.000 tahun. Di usia ini, alam semesta telah menjadi telah mendingin menjadi 3000 Kelvin,m suatu kondisis temperatur yang masih mampu melelehkan sejumlah logam yang pernah kita kenal. Walaupun temperatur ini masih sangat tinggi, energi kinetik yang dimiliki oleh elektron tidak mapu lagi menahan gaya tarik menarik Coulomb antara elektron antara elektron dan nukleus. Elektron kemudian bergabung dengan nukleus membentuk atom sehingga seluruh sup plasma tadi akhirnya berubah menjadi atom-atom. Mulai saat ini radiasi tyidak lagi bertransformasi menjadi partikel dan anti partikel, sehingga dikatakan bahwa alam semesta mulai terlihat transparan oleh radiasi. Radiasi poton selanjutnya dapat bergerak bebas bersama mengembangnya alam semesta. Dengan demukian, radiasi CMB yang teramati oleh ilmuan adalah fosil radiasi yang berasal dari 300.000 tahun setelah terjadi Big Bang.
          Dalam beberapa jam setelah Big Bang, pembentukan helium serta elemen-elemen ringan lainnya berhenti. Alam semesta terus berkembang dan mendingin. Namun, beberapa lokasi yang memiliki kerapatan jauh lebih besar di tempat lain,proses pengembangan tersebut agak lambat akibat gaya tarik menarik gravitasi yang relatif lebih besar. Bahkan, di tempat-tempat tertentu di alam semesta proses pengembangan berhenti sama sekali dan elemen-elemen yang ada di tempat itu mulai merapat. Karena gaya gravitasi semakin bertambah, gas-gas hidrogen dan helium mulai berrotasi untuk mengimbangi tarikan gravitasi. Proses ini selanjutnya melahirkan galaksi-galaksi yang berputar dan memeliki berbagai macam bentuk seperti cakram dan elips, bergantung pada kecepatan rotasi serta gaya gravitasinya.
          Selanjutnya gas-gas Hidrogen dan Helium dalm galaksi akan pecah menjadi awan-awan yang lebih kecil dan juga mengalami proses  kontraksi karena masing-masing mempunyai gaya gravitasi sendiri. Karena atom-atom di dalam awan tersebut saling bertumbukan, tarikan garavitasi menimbulkan tekananan bertambah dan temperatur terus meningkat yang pada akhirnya sanggup untuk menyulut reaksi nuklir fusi. Reaksi ini akan mengubah Hidrogen menjadi Helium dan relatif berlangsung lama karena persediaan hidrogen yang berlimpah dan terjadi keseimbangan antara gaya gravitasi dengan gaya ledakan nuklir. Helium kemudian diubah menjadi helium-helium yang lebih berat melaliu proses fusi hingga menjadi Karbon dan Oksigen. Tahapan selanjutnya menghasilkan bintang-bintang di dalam galaksi yang sebagian meledak sambil melemparkan bahan baakar untuk membentuk bintang-bintang generasi baru. Salah stu contoh dari bintang generasi baru ini adalah matahari yang setiap hari kita pandangi. Sebagian kecil dari pecahan-pecahan ledakan yang mengandung element lebih berat tidak lagi sanggup untuk menyalakan reaksi fusi nuklir karena elementnya  relatif sudah stabil dan temperaturnya tidak cukup tinggi. Bagian ini, akhirnya membentuk planet-planet yang mengorbit bintang seperti bumi kita yang mengorbit matahari.
          Pada saat bumi terbentuk, sekitar lima milyar tahun yang lalu, temperaturnya sangat tinggi dan tidak memiliki atmosfer. Setelah agak lama berubah, temperatur bumi menurun dan atmosfer mulai terbentuk karena adanya emisi gas dari batu-batuan di atas permukaan bumi. Namun, atmosfer pertama ini, bukanlah atmosfer yang dapat mendukung kehidupan seperti saat sekarang ini, karena atmosfer bumi terdiri dari gas-gas beracun seperti Hidrogen Sulfida. Untungnya beberapa makhluk primitif yang ada saat itu membutuhkan gas-gas tersebut untuk bernafas dan menghasilkan Oksigen sebagai gas buangan ke permukaan bumi, sehingga permukaan bumi akhirnya  dipenuhi oleh gas Oksigen. Karena gas Oksigen sendiri, merupakan raun bagi makhluk primitif ini, sebagian besar dari mereka akhirnya punah secara alami, sedangkan sebagian lagi dapat menyesuaikan diri dengan mengkonsumsi Oksigen sebagai kebutuhan hidupnya.[3]
          Hingga saat ini, kita telah mengenal dan mengetahui bahwa alam semesta senantiasa berkembang. Pengembangan alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa ‘titik tunggal’ ini, yang berisi semua materi alam smesta haruslah memiliki ‘volume nol’, dan ‘kepadatan tidak terhingga’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.

2.  Pembentukan Alam Semesta Dari Kaca Mata Al-Qur’an

        Al-Qur’an merupakan

Kamis, 15 Mei 2014

Jumat Pagi

Konco-konco, lek jenengan ndek pondok enak-enak an, santai-santaian, pindah turu tok  BAHAYA.

Wayahe ngaji di tinggal jagongan , ditinggal turu.

Wayahe Jamaah cangkruan nang kamar, sek kaet budal nang jeding.

Wayahe sekolah ditinggal bolos,
Internetan nang pasar.

Ndek pondok apik-apik an HP,
gede-gede an Laptop.
Ndek pondok gowo sepeda motor.

Coba' jenengan tingali beliau Romo Kyai .

Ten pondok singén Lek pas wayahe dikirim, sangu langsung dientekno, digawe slametan ambek rencang-rencange, cek supoyo manteb tirakate.

Sholat jamaah gak tau pot limang waktu.
Bahkan beliau nate sanjang, sakderenge boyong kaleh Siembah Yai dipeseni : Jamaah lima waktu ndek mburine imam pas, gak oleh ketinggalan takbirotul ikhrom 40 dino.

Mujahadah e, motolaah kitabe,mulyakno nang Gurune lan dzurriyahe.

NDEK PONDOK GAK TAU ENAK-ENAK AN .

Panjenengan tingali sakniki :
Mobile mawon  pinten ?!!
Sak ben tuku seng anyar seng lawas gak oleh didol.
Annur2 sakniki dadi pondok termegah sak malang raya.

"GAK POPO SUSAH DIESEK SENG PENTING EMBEN SENENG "

~Jumat Pagi -16- Mei-2014.

Selasa, 08 April 2014

Pengembangan Kurikulum

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………..………………...…..ii

DAFTAR ISI………………………………………………………...…………………….….iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang……………………………………………..………………...……1

1.2  Rumusan Masalah………………………………………………..…………..……1

1.3  Tujuan………………………………………………………..……………………1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Pembangunan Kurikulum PAI………………………………………2

2.1.1 Pendekatan Subjek Akademis………………………………………….3

2.1.2 Pendekatan Humanistik………………………………………………3-4

2.2.2 Berbasis Rekonstruksi Sosial………………...………………..………...………4

2.2.3 Berbasis Akademik……………………………………………..…………..…4-5

2.2.4 Berbasis Kompetensi………………………………………………………………..5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………6

DAFTAR  PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kurikulum merupakan suatu alat yang dipakai untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing masing satuan pendidikan. Sejalan dengan ketentuan tersebut, perlu ditambahkan bahwa pendidikan nasional berakar pada kebudayaan nasional dan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan undang Undang Dasar 1945. [1]
Kurikulum dalam hal ini membutuhkan landasan yang kuat agar dapat dikembangkan oleh sekolah. Namun, pada kenyataaannya kurikulum dibuat sesuai standar kompetensi dan standar nasional yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah. Seharusnya, pengembangan kurikulum itu dilakukan oleh sekolah atau lembaga pendidikan tersebut yang lebih mengerti dan paham kurikulum seperti apa yang lebih dibutuhkan. Pengalaman selama setengah abad negeri ini mengelola sendiri sistem pendidikannya menunjukkan, setiap kali muncul pembicaraan yang mengarah pada upaya perbaikan sistem pendidikan nasional selalu yang menjadi titik berat perhatian adalah pembenahan kurikulum.[2]
Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah benar kurikulum memang memiliki dasar dan landasan yang kuat yang memang disiapkan agar peserta didik, pendidik, orang tua dan komponen pendidikan lainnya sesuai dengan tujuan pendidikan dan standar pendidikan. Apa yang mendasari itu semua? Benarkah kurikulum itu dibuat untuk memperbaiki kurikulum yang lama dengan kurikulum yang baru, yang sering disebut dengan evaluasi kurikulum? Dimana sistem evaluasi digunakan  untuk menentukan tingkat pencapaian keberhasilan peserta didik dalam bentuk hasil khusus.[3]
1.1  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penyusun merumuskan masalah makalah ini sebagai berikut:
1.  Bagaimanakah Landasan Pengembangan Kurikulum?
2.  Bagaimanakah Pendekatan-Pendekatan Pengembangan Kurikulum?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Landasan Pengembangan Kurikulum.
2. Mengetahui Pendekatan Pengembangan Kurikulum.

[1] Depdikbud.Kurikulum 1978.1979.hlm 37
[2] Kompas: Selasa, 1 Mei 2001
[3] Subandijah.Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo, 1986.) hlm. 37

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Pembangunan Kurikulum PAI

Kurikulum informal terdiri atas kegiatan yang direncanakan, namun tidak langsung berhubungan dengan kelas atau mata pelajaran tertentu dan kurikulum itu dipertimbangkan sebagai pelengkap bagi kurikulum formal. Kurikulum formal mengikuti rencana kurikulum itu sendiri dan rencana pengajaran yang keduanya ini akan menjadi fokus pembicaraan kita, yaitu apakah pengembangan kurikulum itu? Pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. [4]

Pendekatan adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis agar memperoleh kurikulum yang lebih baik. [5]

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.[6]

Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya terdapat empat pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu: pendekatan subjek akademis; pendekatan humanistis; pendekatan teknologis/kompetensi; dan pendekatan rekontruksi sosial.[7]

Ditinjau dari tipologi-tipologi filsafat pendidikan Islam sebagaimana uraian sebelumnya, maka tipologi perennial-esensialis salafi dan perennial-esensialis mazhabi lebih cenderung kepada pendekatan subjek akademis dan dalam beberapa hal juga pendekatan teknologis. Demikian pula, tipologi perennial-esensialis kontektual falsitikatif juga cenderung menggunakan pendekaran subjek akademis dan dalam beberapa hal lebih berorientasi pada pendekatan teknologis dan pendekatan humanistis. Tipologi modernis lebih berorientasi pada pendekatan humanistis. Sedangkan tipologi rekonstruksi sosial lebih berorientasi pada pendekatan rekonstruksi sosial.[8]

[4]Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo,1986) hlm.37

[5] Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hlm.200

[6] Sanjaya, Wina.Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).(Jakarta: Kencana, 2010) hlm.77

[7] Noeng, Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000 dalam Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010 hlm.139

[8] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010)  hlm.139-140

2.1.1 Pendekatan Subjek Akademis
Kurikulum disajikan dalam bagian-bagian ilmu pengetahuan, mata pelajaran yang di intregasikan. Ciri-ciri ini berhubungan dengan maksud, metode, organisasi dan evaluasi. Pendekatan subjek akademis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Para ahli akademis terus mencoba mengembangkan sebuah kurikulum yang akan melengkapi peserta didik untuk masuk ke dunia pengetahuan, dengan  konsep dasar dan metode untuk mengamati, hubungan antara sesama, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Pengembangan kurikulum subjek akademis dilakukan dengan cara menetapkan lebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu.[9]
Pendidikan agama Islam di sekolah meliputi aspek Al-quran/Hadist, keimanan, akhlak, ibadah/muamalah, dan tarih/ sejarah umat Islam. Di madrasah, aspek-aspek tersebut dijadikan sub-sub mata pelajaran PAI meliputi : Al-quran Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlaq, dan sejarah. Kelemahan pendekatan ini adalah kegagalan dalam memberikan perhatian kepada yang lainnya, dan melihat bagaimana isi dan disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern yang kompleks, yang tidak dapat dijawab oleh hanya satu ilmu saja.[10]
2.1.2 Pendekatan Humanistik
Pendekatan Humanistik dalam pengembangan kurikulum bertolak dari ide "memanusiakan manusia". Penciptaan konteks yang akan memberi peluang manusia untuk menjadi lebih human, untuk memprtinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi, dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengembangan program pendidikan.[11]
Kurikulum Humanistis dikembangkan oleh para ahli pendidikan Humanistis. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Dewey. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Kurikulum Humanistis ini, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didiknya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan adalah sebagai berikut:[12]
1. Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2. Menghormati individu peserta didik.
3. Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat.
Dalam pendekatan Humanistis ini, peserta didik diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya. Kurikulum ini melihat kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk peserta dimasa depan. Sesuai dengan prinsip yang dianut, kurikulum ini menekankan integritas, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan. Beberapa acuan dalam kurikulum ini antara lain:[13]
1.  Integrasi semua domain afeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, nilai-nilai, dan domain kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan.
2.  Kesadaran dan kepentingan.
3.  Respon terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan.
Kurikulum Humanistis memiliki kelemahan, antara lain:
1. Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik.
2. Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu tapi kenyataannya terdapat keseragaman peserta didik.
3. Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
4. Dalam kurikulum ini prisip-prinsip psikologis yang ada kurang terhubungkan.[14]
2.1.3 Pendekatan Rekrontruksi Sosial
Kurikulum ini sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik perkembangan ekonomi. Kurikulum ini bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusian. Permasalahan yang muncul tidak harus pengetahuan sosial saja, tetapi di setiap disiplin ilmu termasuk ekonomi, kimia, matematika dan lain-lain. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama. Melalui interaksi ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyrakat yang lebih baik.[15]
Kegiatan yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial antara lain melibatkan:
1.  Survey kritis terhadap suatu masyarakat.
2. Studi yang melihat hubungan antara ekonomi lokal dengan ekonomi nasional atau internasional.
3.  Study pengaruh