ASAS TASAWUF.
Oleh : Ahmad Zain.
Tasawuf islami adalah sebuah ilmu yang luhur dan mulia, mengambil dari hujjah-hujjah yang kuat berlandaskan pada al Qur'an dan Sunnah dan karena demikian jadilah ilmu ini wasilah kepada keselamatan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tasawuf adalah obat bagi seseorang yang sakit jiwanya, manhaj atau cara untuk membersihkan hati, adalah cahaya kehidupan islam yang berlandaskan pada menghiasi akhlakul karimah dan meninggakkan perkara jelek yang berujung pada mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya R.A.
Asas Tasawuf ada 5 perkara yang insyaAllah akan saya perjelas sedetail-detailnya.
1. Bersihnya hati dan senantiasa muhasabah diri.
2. Niat hanya karena Allah semata.
3. Berpegang teguh dalam keadaan faqr dan iftiqor (selalu membutuhkanNya)
4. Mempunyai hati yang senantiasa dalam keadaan rahmah (kasih sayang) dan mahabbah (rasa cinta).
5. Menghiasi diri dengan Akhlakul karimah yang Nabi di utus dibumi ini untuk menyempurnakan akhlak.
Perincian :
Qaidah ke I.
Bersihnya hati dan senantiasa muhasabah diri.
Maknanya adalah setiap seseorang yang mau menghadap Allah SWT sudah mempersiapkan jawaban yang akan ditanyakan olehNya, maka dari itu muhasabah diri sebelum di hisab oleh Allah .
Menimbang-nimbang amal perbuatan kita sebelum ditimbang di akherat.
Berkata Umar bin Khatab :
حاسبوا أنفسكم قبل ان تحاسبوا وزنوها قبل ان توزنوا
Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab di akherat, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang nanti.
Qoidah ke II.
Hanya karena Allah SWT.
Maknanya adalah Mutasowwif(seseorang yang bertasawuf) harus mempunyai niat karena Allah saja, didalam setiap perkataan dan perbuatanya, bermandikan ikhlas dalam hatinya hanya untuk mencari ridlo Allah SWT.
Didalam al Qur-an disebutkan :
ومالأحد عنده من نعمة تجزى إلا ابتغاء وجه ربه الاعلى
Qaidah ke III.
Senantiasa dalam keadaan Faqr dan Iftiqar.
Maknaya adalah zuhud dalam urusan dunia , tidak terlalu menyibukkan diri dengan penampilan, karena sesungguhnya bertahan diri dalam keadaan faqir, hidup keadaan kekurangan adalah tanda putusnya tali penyambung antara seorang hamba dan syaitan.
Adapun makna iftiqor adalah mengosongkan diri dalam urusan perhiasan dunia agar senantiasa takwa dan tawakkal kepada Allah, dan bahwa sesungguhnya tidak ada kekuatan, kemenangan kecuali memang hanya dari Nya saja. Menjadikan dunia dan seisinya hanya sekedar dalam genggaman tangan bukan merasuk dalam hati.
Sebuah kisah yang diceritakan oleh Imam al Suhrawardi dalam kitabnya Awariful Ma'arif :
Dzun Nun al Mishri suatu saat melihat di pinggiran pasar Syam seorang wanita cantik.
Maka aku bertanya : mau menju kemana engkau ?
Kepada suatu kaum yang
تتجافى جنوبهم عن المضاجع
Jawabnya.
Kemudia aku bertanya lagi,
Apa yang engkau cari ?
رجال لاتلهيهم تجارة ولابيع عن ذكر الله
Yaitu orang laki-laki yang tidak dapat dilalaikan oleh perniagaan dan jual-beli karena mengingat Allah.
Kisah pendek yang bagus untuk direnungkan.
Qaidah ke IV.
Memiliki hati yang mencintai dan menyayangi.
Maknannya adalah setia Sufi harus selalu mempunyai rasa mahabbah pada sesama, memuliakan dan menyayangi pada setiap muslim baik yang kecil maupun yang besar. Dan barang siapa yang teguh mengambil qaidah ini senantiasa istiqamah dan selalu melatih hatinya untuk mencintai sesama, maka Allah akan membenamkan cahaya rahmat dalam hatinya, memberikan rasa manisnya keridloan, dengan demikian akan mendapatkan warisan besar para nabi.
Allah SWT mensifati Nabi Muhammad sebagai Rahmatan lil Alamien.
وما ارسلناك الا رحمة للعالمين.
Aku(Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam.
Abu Bakar as Sidiq berkata :
ولاتحقر احدا من المسلمين فان حقير المسلمين عند الله كبير.
Janganlah engkau meremehkan seorang muslim, sesungguhnya meremehkan seorang muslim dihadapan Allah sangatlah besar.
Qaidah ke V
Berhias diri dengan akhlakul karimah yang dengannya Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan.
Qaidah ini adalah subtansi agama dan haqiqat akhlak para Sufi, berlemah lembut kepada keluarga, tetangga dan umat manusia meskipun berbeda agama.
Allah SWT berfirman :
وقولوا للناس حسنا
Dan berkatalah kepada manusia dengan perkataan baik.
Telah disebutkan juga didalam hadist riwayat dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ رواه أحمد والترمذى
(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan Tirmizi.
Allah SWT memberlakukan kepada hambanya dengan baik seperti disebutkan dalam hadist Qudsi riwayat dari Imam Muslim dari Abu Hurairah R.A bahaw Rasulullah S.A.W bersabda:
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻘﻮﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻣﺮﺿﺖ ﻓﻠﻢ ﺗﻌﺪﻧﻲ ﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻛﻴﻒ ﺃﻋﻮﺩﻙ ﻭﺃﻧﺖ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﻋﺒﺪﻱ ﻓﻼﻧﺎ ﻣﺮﺽ ﻓﻠﻢ ﺗﻌﺪﻩ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻚ ﻟﻮ ﻋﺪﺗﻪ ﻟﻮﺟﺪﺗﻨﻲ ﻋﻨﺪﻩ ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺍﺳﺘﻄﻌﻤﺘﻚ ﻓﻠﻢ ﺗﻄﻌﻤﻨﻲ ﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻛﻴﻒ ﺃﻃﻌﻤﻚ ﻭﺃﻧﺖ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻪ ﺍﺳﺘﻄﻌﻤﻚ ﻋﺒﺪﻱ ﻓﻼﻥ ﻓﻠﻢ ﺗﻄﻌﻤﻪ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻚ ﻟﻮ ﺃﻃﻌﻤﺘﻪ ﻟﻮﺟﺪﺕ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪﻱ ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺍﺳﺘﺴﻘﻴﺘﻚ ﻓﻠﻢ ﺗﺴﻘﻨﻲ ﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻛﻴﻒ ﺃﺳﻘﻴﻚ ﻭﺃﻧﺖ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﺍﺳﺘﺴﻘﺎﻙ ﻋﺒﺪﻱ ﻓﻼﻥ ﻓﻠﻢ ﺗﺴﻘﻪ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻚ ﻟﻮ ﺳﻘﻴﺘﻪ ﻟﻮﺟﺪﺕ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪﻱﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ
”Allah S.W.T akan berfirman pada hari Kiamat kelak:” Wahai anak Adam! Aku sakit tapi kamu tidak
mau menziarahi-Ku”. Manusia menjawab: ”Wahai Tuhanku! Bagaimana aku dapat menziarahi-Mu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam”? Allah berfirman:” Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku sifulan pernah sakit, tetapi kamu tidak mau menziarahinya? Tidakkah kamu mengetahui bahwa seandainya kamu melawatnya tentu kamu akan mendapati (Pahala, Kemuliaan, Karunia, dari)-Ku di sisinya?. Wahai anak Adam! Aku meminta kepada-Mu supaya memberi makanan, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan”. Manusia menjawab: ”Wahai Tuhan-Ku! Bagaimana aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam? Allah berfirman: ”Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan pernah meminta makanan, tetapi kamu tidak mempedulikannya? Tidakkah kamu mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya makan pasti kamu akan mendapatkan (pahala dari) makanan (itu) di sisi-Ku. Wahai anak Adam! Aku meminta supaya kamu memberi-Ku minum, tetapi kamu tidak peduli”. Manusia menjawab: ”Wahai Tuhan-Ku! Bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam”? Allah berfirman: ”Hamba-Ku si fulan pernah meminta kepada-Mu supaya diberi minum, tetapi kamu tidak memperdulikannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya minum tentu kamu akan mendapati (pahala dari) minuman (itu) disisi-Ku”.
Ini adalah hadist qudsi yang menerangkan tentang akhlak, muamalah kepada sesama dan ini pula qonun ilahi yang dijalankan oleh ulama' ulama tasawuf, dan barang siapa yang berpegang teguh pada hal ini maka segala kondisi dan keadaannya bersama dengan Rab Azza wa Jalla, tidak ingin mendekat kecuali hanya kepadaNya dan hidup hanya untukNya. [1] Al Shufiyah wa Tasawwuf, Syekh Adnan Haqqi. 40-42.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar