Senin, 11 Januari 2016

Cara Cerdas Membaca Buku

Cara Cerdas Membaca Buku


“Membaca buku bermutu sama seperti melakukan percakapan dengan orang hebat dari masa lalu.”

– Rene Descartes

Anda mungkin gemar membaca buku-buku yang menghibur, tapi Anda memiliki kendala dalam membaca buku-buku tema tertentu. Anda mungkin bisa menyelesaikan bacaan , tetapi lupa secepat Anda selesai membacanya. Anda kesulitan mencerna buku bisnis yang tebal, majalah ekonomi, jurnal ilmiah, dan karya orang lain yang tidak bisa dibaca dengan mudah.

Saya akan berbagi saran agar Anda membaca apa yang seharusnya Anda baca dan yang tidak seharusnya Anda baca. Melalui hal ini, Anda dapat menghemat waktu untuk membaca. Inilah petunjuk yang harus Anda ikuti.

Tentukan Tujuan Membaca

Apa tujuan Anda membaca? Jika jawaban terbaik Anda adalah bos saya mengharuskannya, atau guru saya mewajibkannya. Itu menyiratkan bahwa Anda memerlukan beberapa alasan yang lebih tepat. Jika tujuan Anda membaca sebuah bab hanya agar dapat berkata,”Saya telah menyelesaikan tugas membaca,” ini merupakan pekerjaan yang sia-sia. Lebih baik Anda meletakkan buku tersebut di bawah bantal, dan berharap Anda dapat menyerap buku tersebut secara otomatis.

Jika Anda dapat menemukan beberapa alasan membaca, Anda akan menemukan diri Anda terhanyut halaman demi halaman dan menguasai isinya lebih banyak dan bukan sekedar mengingat judul babnya saja. Menurut para ahli membaca, ada 6 tujuan mendasar dalam membaca, yaitu:

menangkap pesan dalam bacaan;menemukan rincian yang penting;menjawab pertanyaan yang khusus;mengevaluasi isi yang Anda baca;mengaplikasikan hal yang Anda baca dan

Menggunakan Petunjuk dalam Buku

Ada lembaran khusus yang dapat Anda temukan pada setiap buku teks (kecuali novel), ini adalah rambu-rambu yang menuntun Anda dalam memahami buku yang Anda baca. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda perhatikan ketika mengawali membaca sebuah buku.

Daftar Isi, halaman ini memuat judul bab, dan sub bab pada halaman buku. Beberapa daftar isi sangat terperinci, mendaftarkan setiap topik yang dibahas dalam setiap bab.

Kata Pengantar, halaman ini adalah gambaran informasi yang akan Anda temukan dalam buku tersebut.

Pendahuluan, halaman ini ditulis sendiri oleh si penulis atau oleh beberapa nama penulis lain yang diminta oleh penulis untuk menambahkan kesan pada karyanya. Bagian pendahuluan biasanya memuat pandangan umum tentang buku, rangkuman bab demi bab, untuk memberi sentuhan mengenai isi buku secara keseluruhan.

Catatan Kaki dapat ditemukan dalam teks (nomor kecil diikuti kalimat kutipan, contoh: Bobby Prabawa25). Catatan dijelaskan langsung pada halaman terkait atau di bagian khusus pada halaman akhir teks. Catatan kaki digunakan untuk mengambil sumber langsung, kutipan, ide, penjelasan lebih lanjut tentang suatu hal.

Catatan kaki adalah tambahan penjelasan atau tambahan informasi di luar teks. Anda juga boleh membuat kebiasaan baru dengan mencari sumber yang dikutip sebagai bacaan yang Anda telusuri lebih lanjut. Jika teks menggunakan istilah yang mungkin kurang Anda pahami, penulis akan menambahkan dalamglosarium – daftar istilah yang akan menjelaskan semua istilah tersebut.

Daftar Pustaka berada di halaman akhir buku, yang mencantumkan referensi yang digunakan penulis dalam menyusun atau menulis buku tersebut. Daftar bacaan yang direkomendasikan, atau keduanya. Daftar pustaka ini disusun sesuai dengan alphabet untuk memudahkan Anda mencari informasi lebih lanjut dalam topik tertentu.

Lampiran, terdiri dari data pelengkap, atau contoh yang berhubungan dengan teks yang berada pada bagian akhir buku. Bagian terakhir buku biasanya adalahindeks. Indeks adalah daftar urutan referensi berdasarkan abjad disertai dengan nomor halaman, nama tertentu, perihal, dan topik di dalam teks.

Membiasakan diri untuk memaksimalkan semua alat bantu dalam sebuah buku membuat kesibukan membaca dan mengingat Anda lebih mudah.

Referensi :

Belajar Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras, Ron Fry, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, Agustus 2008.

Berpikirlah Apa yang Engkau Punya.

فكر فيما عندك وليس فيما ليس عندك ، فان ما عندك من كرم الله، وماليس عندك من حكمة الله.

Berpikirlah apa yang anda miliki, dan jangan terlalu disibukkan apa yang belum di miliki. Karena sesungguhnya apa yang anda miliki adalah anugrah Nya, dan yang belum anda miliki adalah hikmah dariNya SWT.

Minggu, 10 Januari 2016

PUISI KEHIDUPAN

P U I S I KEHIDUPAN

~KETIKA
Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuahy KEKAYAAN.

~KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

~KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN....
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

~KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU...
Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA

~BUKAN...
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA...
Tetapi karena kita BAHAGIA...
maka hari ini menjadi INDAH.

~BUKAN...
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS...
Tetapi karena kita OPTIMIS...
RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

~BUKAN...
karena MUDAH kita YAKIN BISA...
Tetapi karena kita YAKIN BISA... semuanya menjadi MUDAH.

~BUKAN...
karena semua BAIK kita TERSENYUM...
Tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi jalan besar...
cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi matahari...
cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita.

~BILA...
kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang...
cukuplah berdoa untuknya

Malam semuanya...

Sabtu, 09 Januari 2016

Syekh Abdul Qadir al Jailani Sang Pembaharu Pendidikan

Abdul Qadir al-Jilani dan Pembaharuan Pendidikan

Di masanya, umat Islam sempat berada pada situasi ketidakstabilan sosial, politik, budaya dan keagamaan. Pemberontakan, kekalahan perang, perpecahan umat dan perebutan kekuasaan serta kekacauan atas ulah kelompok madzhab Batiniyah mewarnai kehidupan masyarakat. Syekh al-Jilani, dengan terinspirasi oleh metode Imam al-Ghazali, berinisiatif memperbaiki situasi dengan reformasi bidang pendidikan. Beliau dikenal sebagai ulama’ sufi kenamaan yang memiliki peran besar dalam memenangkan perang salib.

Dalam dunia tariqah sufi, Syekh al-Jilani dikenal sebagai pendiri tariqah al-Qadiriyah, tariqah sufi yang masyhur. Syekh al-Jilani yang dilahirkan dikota Jilaniy/Kilaniy – sebuah kawasan di negeri Irak, pada usia 18 tahun menginjakkan kota Baghadad pertama kali, menandai fase penting dari perjalanan pendidikannya. Syekh al-Jilani yang sejak kecil hidup dalam lingkungan keluarga bercorak sufi, berguru kepada ulama’-ulama’ tasawwuf kenamaan di kota Baghdad, seperti Syekh Hammad al-Dabbas, Ibn ‘Aqil dan kakeknya sendiri Syekh Al-Shouma’i.’

Di luar para gurunya tersebut, Syekh al-Jilani mengagumi sosok Imam al-Ghazali. Satu sisi penting yang dipelajari dari Imam al-Ghazali adalah konsep ilmu, dan perpaduan ilmu fiqih dan tasawwuf Sunni. Pendekatan Imam al-Ghazali yang holistik dalam pengajaran itu ia praktikkan dalam pendidikan di madrasah yang ia bangun, Madrasah al-Qadiriyah.

Hampir sama dengan Imam al-Ghazali, Syekh al-Jilani melihat bahwa kerusakan ilmu adalah problem semua krisis keumatan. Beliau dalam amar ma’ruf nahi munkar kerap meluruskan para ulama’ yang jatuh kepada materialisme. Ulama’ adalah pengemban ilmu, jika ada ulama yang materialisme, maka ada kerusakan konsep dalam ilmunya. Dalam kitabnya al-Fath al-Rabbaniy beliau mengkritik kalangan  sufi yang menyimpang, berpura-pura bertasawwuf tapi hati terkotori oleh hal-hal yang menghalangi untuk sampai pada Allah. Sufi yang mengumbar nafsu dan menyeru kepada kemungkaran, menurut beliau adalah orang-orang yang merusak citra tasawwuf dan menggerogoti pondasi umat.

Sebagaimana telah diajarkan oleh Imam al-Ghazali, tujuang pengajarannya adalah menjaga kemurnian agama, mengatasi berbagai macam pertikaian madzhab dan membentuk mental kaum muslim yang faqih, zahid, dan sekaligus mujahid. Dr. Majid Irsan Kilani dalam bukunya Hakadza Dzahara Jiil Shalahuddin wa Hakadza ‘Aadat al-Quds mencatat, bahwa karya Syekh al-Jilani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariqi al-Haq dususun sesuai dengan metode penulisan Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin.

Konsep Pendidikan

Kedua kitab tersebut memiliki kekhasan yang sama. Yakni metode integrasi ilmu-ilmu keislaman. Dalam setiap pembahasan fikih misalnya selalu terkait dengan kajian tasawwuf, dan tazkiyat al-nafs. Bahkan al-Ghazali dalam beberapa kajian tentang akhlak, mengaitkan dengan ilmu psikologi dan kesehatan (kedokteran). Kitab al-Ghunyah dimulai dengan makna syahadat, kemudian diikuti dengan bab fikih – thaharah dan shalat dalam satu bab.

Kekhasan kitab tersebut mengandung tujuan metode pembelajaran, bahwa dalam mempelajari ilmu dalam Islam tidak dikenal metode dikotomi. Semua kajian keilmuan dalam tradisi Islam memiliki jaringan keilmuan (knowledge networking) antara satu dengan yang lain. Yang unik juga dari kedua metode ulama’ tersebut, semua ilmu diajarkan selalu berbasis aqa’id dan tasawwuf sunni.

Untuk mempraktikkan pemikiran pendidikannya, Syekh Abdul Qadir menerapkan dua metode, pertama, membuat pengajaran yang sistematis dan pendidikan jiwa yang sistematis, kedua, memberi ceramah dan berdakwah kepada masyarakat umum atau muslim awam.

Untuk metode pertama, al-Jilani membangun madrasah yang dinamai Madrasah al-Qadiriyah yang selesai pembangunannya pada tahun 528 H. Tidak jauh dari lokasi Madrash dibangun Ribath – sebuah asrama untuk menampung para pelajar dari luar Baghdad. Ribath ini mirip dengan asrama pondok pesantren di Indonesia.

Kurikulum Madrasah Qadiriyah disusun dengan dasar ilmu tasawwuf dan ushuluddin. Sedangkan pelajaran dasar yang diberikan adalah penggabungan antara fikih dan tasawwuf. Tampaknya, Syeikh al-Jilani sejak pendidikan pemula ingin, membentuk mental para ulama’ yang memiliki cara pandang yang sama demi mencegah perpecahan antara para ulama’. Konfrontasi antara madzhab fikih saat itu memang begitu hebat, bahkan sampai pernah terjadi adu fisik. Maka, yang dibutuhkan umat adalah ilmuan-ilmuan yang memiliki kemampuan memahami berbagai disiplin ilmu secara integral, agar secara cerdas mengatasi problem keumatan.

Misi yang kedua adalah, melahirkan da’i yang kompeten melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Pelajaran yang disiapakan untuk kader ulama’ ini adalah ilmu tentang pemikiran-pemikiran kontemporer yang eksis saat itu. Termasuk ideologi-ideologi yang menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Tema-tema ini beliau kemukakan dalam kitabnya al-Gunyah. Dalam kitab tersebut, Syekh al-Jilani mensyaratkan bagi orang yang akan masuk tariqahnya; “Wajib bagi murid (pengikut tariqah) untuk menjadikan akidah Sunni sebagai ‘sayapnya’ sebagai media dalam bertariqah untuk sampai kepada Allah” (al-Ghunyah II, 163).

Pembahasan akidah yang dilakukan Syekh al-Jilani menunjukkan pengetahuannya yang sangat luas tentang seluk-beluk akidah, kegiatan dan sejarah aliran-aliran tersebut. Di antara aliran yang dikritik diantaranya Syi’ah Ghulat dan Batiniyyah. Bahkan beliau berpendapat bahwa Syi’ah Ghulat memiliki kemiripan dengan Yahudi. “Orang Yahudi meyakini tidak ada jihad di jalan Allah sampai al-Masih al-Dajjal keluar dan turun dari langit. Orang-orang Rawafidh meyakini tidak ada jihad sampai al-Mahdi keluar dan terdengar suara menyeru dari langit” tulis Syekh al-Jilani.

Oleh: Kholili Hasib

Pembahasan tersebut bertujuan menjaga kemurnian akidah Islam, dari berbagai macam ideologi asing. Disamping itu, Syekh al-Jilani juga melarang pelajar mempelajari filsafat Yunani, sebab mengandung banyak kerancuan berpikir. Bermacamnya ideologi asing tersebut mengancam persatuan umat, sehingga memperlemah kekuatan Islam menghadapi perang Salib.

Syekh al-Jilani juga berusaha menyudahi perselisihan-perselisihan madzhab fikih yang sering berakhir dengan pertentangan fisik. Imam an-Nawawi dalam Bustan al-‘Arifin mencatat keunikan Syekh al-Jilani. Disebutkan bahwa beliau bersikap terbuka terhadap madzhab Syafi’i dan menjalin kerjasama dengan para pengikut Hambali. Beliau bahkan berfatwa dengan dua madzhab, kepada Syafi’iyyah ia berfatwa dengan madzhab Syafi’i, sedangkan kepada pengikut Hambali beliau berfatwa sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau menguasai hukum-hukum dua madzhab, maka tidaklah heran beliau bisa diterima oleh dua madzhab tersebut.

Untuk tujuan tersebut di atas, maka al-Jilani merancang pendekatan tarbiyah ruhiyah. Tujuannya, membentuk mental pelajar atau murid yang memiliki hati bersih tanpa noda, senantiasa mengikuti jejak Nabi SAW dalam cara berpikir, emosi dan nilainya. Pendekatan ini merupakan formulasi Syekh al-Jilani menancapkan worldview Nabi Muhammad SAW dalam setiap aktifitas perilaku para pelajar.

Praktik pendidikan mental ini diterapkan dalam Ribath di bawah pengawasan sorang Syeikh. Sang guru pembimbing yang ditunjuk al-Jilani ini mengajari teori sekaligus praktik sehari-hari secara ketat. Sehingga, lulusan madrasah ini betul-betul kuat basicfaith-nya. Sedikit saja perkara makruh dilakukan, langsung ditegur oleh Syekh.

Dalam Futuhul Ghaib Risalah ke-14, Syekh al-Jilani mengajarkan bahwa materialisme adalah budak nafsu, dan sumber kehancuran.  Menurut beliau, tidaklah pantas orang yang mengaku mencapai derajat Rabbani tapi hatinya masih tercampur materialisme. Materialisme adalah paham sempit keduniaan. Sedangkan muslim sejati adalah hatinya yang tidak terpaut pada bumi tapi selalu terpaut pada akhirat. Penglihataan selalu diteropong dengan akhirat.

Pengajaran Syekh al-Jilani ini cukup penting, sebab menyangkut pembentukan cara berpikir pelajar dengan benar. Worldview menurut Sayyid Naquib al-Attas, adalah pandangan akal manusia terhadap dunia fisik atau keterlibatan manusia di dalamnya dari segi historis, sosial,  politik dan kultural, tapi mencakup aspek al-dunya dan al-akhirah, dimana aspek dunia harus terkait secara erat dan mendalam dengan aspek akhirat. Sedangkan aspek akhirat harus diletakkan sebagai aspek final (Prolegomena to the Metaphysics of Islam, 1).

Secara teknis, Sayyid al-Attas memandang bahwa segala perilaku, aktifitas manusia harus terkait secara ketat dengan dimensi akhirat. Oleh sebab itu, worldview Islam adalah motor penggerak hati dan pikiran manusia. Maka setiap aktifitas berpikir manusia dapat dilacak worldview-nya. Inilah hal paling mendasar yang menjadi perhatian pendekatan Syekh al-Jilani dalam mempraktikkan pendidikan di Ribat al-Qadiriyah.

Bekal selanjutnya yang tempakan kepada para murid adalah, pembekalan bidang sosial. Pembekalan ini tidak lain merupakan terapan adab secara ijtima’iy (adab sosial). Tujuan utamanya, mempererat hubungan persaudaraan antara sesama muslim, dan menghindari perpecahan sosial dalam masyarakat.

Sebagaiman termaktub dalam kitab al-Gunyah, al-Jilani mencantumkan beberapa adab ijtima’i, di antaranya; etika berpaikaian, etika tidur, makan dan minum, hubungan dengan istri, adab kepada orang tua dan anak, adab bepergian dan sebagainya. Semua etika ini masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Para pelajar selalu dikontrol oleh seorang Syekh dalam mempraktikkan adab.

Kurikulum ini tidak berbentuk teori saja, tapi bagian darinya adalah kurikulum yang berbentuk praktik. Jadi, ini semacam hidden curriculum, yang pengajarannya dilakukan sepanjang hari 24 jam. Dengan model seperti ini, pelajar langsung mempraktikkan adab secara keseluruhan. Dalam konsep Sayyid al-Attas, model pendidikan ini mirip dengan konsep ta’dib, yang menerapkan adab terhadap semua aspek sisi-sisi kehidupan dan keilmuan.

Peran dalam Perang Salib

Menurut kajian Dr. Majid Irsan Kilani, para alumni madrasah ini memiliki peran besar dalam mempersiapkan generasi untuk menghadapi ancaman pasukan salib di daerah Syam. Menurut laporan ini, madrasah al-Qadiriyah menampung anak-anak pengungsi yang melarikan diri dari penjajah tentara Salib lalu menggembleng dan mengembalikan mereka ke wilayah-wilayah medan pertempuran.

Beberapa murid Syekh Abdul Qadir banyak menjadi tokoh terkemuka dalam perang Salib. Seperti Ibnu Naja yang menjadi penasihat Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Begitu pula Ibn Qudamah penulis al-Mughni menjadi salah satu penasihat al-Ayyubi. Metode pendidikan al-Jilani kemudian diteruskan hingga masa pemerintahan Nuruddin Zenki, sultan yang juga berjasa merebut al-Quds dari tentara Salib.

Beginilah metode yang diterapkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang menenkankan kurikulum pelajaran secara integral yang dasarnya adalah tasawwuf dan akidah Sunni. Konsep tazkiyatun al-nafs tidak pernah lepas dari setiap ajaran yang diterapkannya. Dengan konsep yang demikian, seorang pelajar memiliki basis ideologis yang kokoh, yang mampu mengatasi tantangan keislaman.

Al-Jilani bukan sekedar mencetak seorang sufi saja, tapi sufi yang faqih sekaligus mujahid. Hal ini telah terbukti keberhasilannya, tentara Shalahuddin al-Ayyubi tidak hanya jago bertempur di medan perang, akan tetapi mereka juga seorang sufi, mu’adib dan faqih murid Syekh al-Jilani.  Tidak salah dan cukup relevan jika kurikulm model seperti ini diterapkan dalam pendidikan kita saat ini. Akan menarik pula jika konsep tasawwuf nya diintegralkan dengan pelajaran di luar pelajaran syari’ah, misalnya Ekonomi, Kedokteran, Fisika, Kimia, Biologi, Psikologi dll.  Wallahu a’lam bil shawab.

Abu Jahal & Fatimah

Suatu hari Abu Jahal mendatangi rumah Nabi Saw, setelah mengetuk pintu , Sayyidah Fathimah AlZahra yang saat itu masih kecil dan berusia anak2 membukakan pintu untuk Abu Jahal.
Karena Abu Jahal tidak mendapati Nabi Saw , maka ia pun menempeleng wajah Sayyidah Fathimah kecil tersebut, lalu meninggalkannya dalam keadaan menangis.
Saat Rosululloh Saw tiba di rumah, Beliau Saw bertanya kepada putrinya : "Apa yang membuatmu menangis wahai Putriku?".
Sayyidah Fathimah kecil berkata : "Abu Jahal datang kesini mencariMu wahai Ayahku ! Karena tidak mendapatiMu, maka ia menempelengku".
Rosululloh Saw pun berkata : "Jika engkau tidak suka dengan hal itu , maka pergilah menemui Abu Sufyan !".
Sayyidah Fathimah kecil pun berangkat menemui Abu Sofyan (saat itu Masih Kafir). Lalu Sayyidah Fathimah kecil menceritakan kepada Abu Sufyan bahwa Abu Jahal telah memukulnya.
Abu Sufyan pun mengajak Fathimah kecil menemui Abu Jahal , setelah bertemu , Abu Sufyan langsung memelintir tangan Abu Jahal, hingga wajah Abu Jahal menunduk karena kesakitan. Lalu Abu Sufyan berkata kepada Sayyidah Fathimah kecil : "Tamparlah wajahnya sebagaimana ia menampar wajahmu". Maka Sayyidah Fathimah kecil pun menampar wajah Abu Jahal , maka senanglah hati nya karena ia telah membalas perbuatan Abu Jahal".
Abu Sufyan pun berkata kepada Abu Jahal : "Wahai Abal Hakam ! Jika kau punya urusan dengan ayahnya anak ini , maka temuilah Ayahnya, jangan lagi kau berani mengulangi perbutanmu kepada anak ini !".

Abu Sufyan pun kemudian meninggalkan Abu Jahal dalam keadaan malu dan kesakitan.
Sayyidah Fatimah kemudian pulang dan menemui Ayahnya Saw, dengan wajah yang sangat senang. Rosululloh kemudian bertanya tentang apa yang terjadi , lalu Sayyidah Fathimah menceritakan , bhw ia telah membalas perbuatan Abu Jahal.

Rosululloh Saw kemudian bersabda kepada Para Sahabat : "Sesungguhnya Fathimah adalah dariKu, dan Aku adalah dari Fathimah. Barang siapa mencintaiNya maka berarti mencintaiKu, dan barang siapa menyakitiNya, maka berarti ia telah menyakiti Aku".
Kemudian Rosululloh Saw berdo'a : "Yaa Alloh ! Jangan Engkau lupakan kebaikan Abu Sufyan !".

Catatan : Abu Sufyan terlibat dengan berbagai peperangan untuk melawan Rosululloh Saw, namun pada Akhirnya berkat Do'a dari Rosululloh tersebut, Abu Sufyan pada Akhirnya memeluk Islam, dan menjadi pembela Rosululloh Saw.

Sumber : ( Ceramah dari Syeikh Sami , salah satu Murid dari Al Habib Abu Bakar AlAdni Al Masyhur )

(حديث مرفوع) ثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ هَذَا ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْفَضْلِ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَزْوَانَ الْبَغْدَادِيُّ ، ثَنَا الأَصْمَعِيُّ ، ثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : لَطَمَ أَبُو جَهْلٍ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَشَكَتْ إِلَى أَبِيهَا ، فَقَالَ : ائْتِي أَبَا سُفْيَانَ ، فَأَتَتْهُ فَأَخْبَرَتْهُ فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَامَ مَعَهَا حَتَّى وَقَفَ عَلَى أَبِي جَهْلٍ ، وَقَالَ لَهَا : الْطِمِيهِ كَمَا لَطَمَكِ ، فَفَعَلَتْ فَجَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَخْبَرَتْهُ فَرَفَعَ يَدَيْهِ ، وَقَالَ : اللَّهُمَّ لا تُنْسِهَا لأَبِي سُفْيَانَ ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : مَا شَكَكْتُ أَنْ كَانَ إِسْلامُهُ إِلا لِدَعْوَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

ORANG BAIK DI CACI

“KALAM AL ALIM AL ALLAMAH AL ARIFBILLAH  SULTHONUL ULAMA AL  HABIB SALIM BIN ABDULLAH ASSYATHIRI”

MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKITI?

Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.

MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU?

Karena orang baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.

MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA?

Karena orang baik tak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.

MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA?

Karena orang baik tak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Allah SWT akan mengganti kesabarannya.

MENGAPA ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MELUKAINYA?

Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas semua, Allah-lah hakikatnya. Jika Allah menggiringnya, bagaimana ia akan mendebat kehendak-NYA itu sebabnya orang baik tak memiliki lemari dendam dalam kalbunya…
Jika kau buka laci- laci di hatinya, akan kau temukan hanya Cinta yang dimilikinya.

Mudah -mudahan kita semua termasuk orang baik seperti yang dikatakan oleh Al Allamah Al Arifbillah Al  Habib Salim Asy-Syathiri  diatas…

Aamiin allahumma aamiin

Wallahu Alam

GAGALNYA PENDIDIKAN INDONESIA

GAGALNYA PENDIDIKAN.

Pendidikan nasional kalau mau jujur sesungguhnya telah gagal.

Teman saya sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi, ketika mengawali perkuliahan di hari pertama selalu menanyakan kepada mahasiswa untuk menjajaki pengetahuannya secara umum, mulai dari tokah nasional, sirah nabawiyah, fikih dasar, syarat dan rukun sholat, dll. Hampir tdk memperoleh jawaban. Mereka masuk perguruan tinggi seperti komputer (harddisc) yg kosong belum ada data. Otak sebagai keranjang kosong dari informasi ilmu pengetahuan (IP). Mestinya otak mereka sudah penuh dengan informasi IP dan universitas tinggal mengolah, mengembangkan dan mencari hubungan antara satu ilmu dengan yang lain.

Kenapa kegagalan ini terjadi? Banyak faktor.

Satu di antaranya adalah kurikulum, materi dan bahan ajar yg setiap tuhun berubah, buku yg dipakai seorang kakak tdk dpt dipakai adiknya. Utamanya di tingkat dasar dan menengah. Akhirnya mereka hanya belajar untuk "ngrepek" yang ada di buku, untuk menjawab soal ujian, supaya lulus ujian. Begitu lulus efouria tak terbendung dan bersamaan dengan itu sudah lupa semua yang pernah dipelajari selama sekolah.

Menurut saya, belajar di pesantren yg masih ada sistem hafalan,sorogan, itu belum tertandingi dengan kurikulum sekolah formal. Dan kurikulum pesantren mulai jaman Kyai Hasyim As'ari sampai sekarang tidaklah berubah.