Sheikh Mitwalli Sya’rowi: Ulama Tafsir Besar yang Bersahaja.
Kali ini saya ingin mencatat berbagai kisah dengan para tokoh dan ulama dari Mesir, khususnya yang pernah saya menimba ilmu darinya, baik secara langsung maupun tidak. Semoga catatan kecil ini bisa berbagi manfaat dengan pembaca yang lain.
Sheikh Muhammad Mitwalli (atau Mutawalli) al-Sya’rawi adalah tokoh ulama tafsir modern Mesir, yang menurut saya terbesar. Karena saya juga hunting para ulama tafsir dari negara lain yang sezamannya, namun kehebatan dan kepiawaian beliau dalam menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak ada taranya. Beliau adalah alumni Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar. Ayahnya pun menikahkan muda (dini) Sya’rowi dengan niat agar dirinya ‘iffah’ (menjaga kehormatan dari dosa kecil, apalagi besar tentunya). Sikaf ‘afif’ ini yang sudah jarang dilakukan oleh banyak umat Islam di tanah air. Maka, dengan itu jadilah Sya’rawi muda kuliah S1 di Al-Azhar dengan sudah beristri.
Semasa mahasiswa dan selesai kuliah, minat beliau terhadap kitab suci Al-Qur’an menjadi sentral utama. Maka dari tangan beliau akhirnya keluar kajian tafsir Al-Qur’an yang tayang di TV Mesir setiap hari Jum’at dan berseri setiap minggu. Selain itu, transkripnya juga dimuat di majalah Mingguan Mesir ‘Al-Wa’yu al-Islamy’ dan juga di edisi surat kabar ‘Al-Akhbar’ edisi Sabtu. Temanya adalah ‘Khawaatiry Hawla al-Qur’an’ (Gumaman Saya Tentang Al-Qur’an). Khawatir maknanya sekitar apa yang terlintas di benak dan fikiran. Itulah gagasan orisinilitas Sheikh Sya’rawi. Sayapun berlangganan majalah itu dan juga merekam setiap kajian tafsir tersebut melalui radio yang juga ditayangan. Kumpulan in semua, kemudian dibukukan menjadi sebuah kitab Tafsir besar yang berjudul “Tafsir al-Sya’rawi’. Namun, penafsiran tersebut belum selesai, tinggal beberapa bagian akhir, Sheikh Sya’rawi keburu dipanggil Allah swt, dan diteruskan sisanya oleh ulama dengan mengikuti metode yang dipakai oleh Sheikh.
Selain itu juga, Sheikh Sya’rawi menjadi pembicara publik dalam berbagai forum dan media. Semua hasil pembicaraannya ditranskrip oleh Tim penerbit dan dicetak oleh banyak penerbit menjadi buku-buku berseri yang larisnya bagaikan kacang goreng. Terjemahan karya-karya tersebut juga dilakukan oleh sebuah penerbit di Jakarta, yang saya tahu melalui seorang mahasiswa Indonesia di Al-Azhar yang mengirimkan buku-buku beliau untuk diterjemahkan. Kebetulan ayah mahasiswa tadi bekerja atau punya saham di penerbit tersebut. Singkatnya, apabila Sheikh Sya’rawi mengambil haknya dari royalti buku-buku beliau yang diterbitkan ataupun royalti kajian tafsir di TV maupun radio, pasti pundi-pundi income beliau sangat besar. Namun, semua itu tidak beliau lakukan. Hasil penjualan kajian Tafsir di TV pun beliau berikan kepada negara. Dan beliau cukup dengan kehidupan sederhana. Bahkan beliau selalu menyumbangkan uangnya kepada Al-Azhar untuk memberikan beasiswa bagi para pelajar.
Popularitas Sheikh Sya’rawi di Mesir bagaikan matahari di siang hari. Dari pejabat publik hingga rakyat jelata pasti mengenalnya dan bahkan mengidolakannya. Pada suatu waktu, saya menyaksikan sendiri dengan mata kepala sendiri di kawasan Atabah, Kairo tiba-tiba seorang polisi Lalu Lintas memberhentikan sebuah sedan toyota tua. Saya pikir polisi tersebut mau menilangnya. Ternyata, si polisi melihat Sheikh Sya’rawi didalam mobil sederhana tadi untuk hanya mencium tangannya. Sebegitu popularitas Sheikh dan juga kebersahajaan beliau yang saya yakin bila seorang tokoh di Indonesia sudah jadi ‘jaim’. Apalagi bila kekayaannya melimpah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sheikh Sya’rawi.
Kesederhaan beliau juga sangat dikenal di seantero dunia Arab dan Barat. Beliau selalu diundang dalam berbagai forum dunia internasional, termasuk ke PBB, meresmikan berbagai Islamic Center di Barat, dan lain sebagainya. Tapi tetap saja sederhana, bersahaja, dan tidak menyombangkan diri. Hidup dengan sederhana dan tinggal di sebuah flat dekat Masjid Husein di sebelah pasar tua Khan Khalili, seberang Masjid dan kampus Universitas Al-Azhar (tua).
Rahimahullah Sheikh Sya’rawi. Meskipun jalan mendapatkan harta kekayaan melimpah ruah, namun jiwanya tetap ogah pada keduniawian itu, bahkan beliau sedekahkan untuk kepentingan negara (Mesir) dan umat. Beliau tetap hanya menjalani hidup sederhana dengan sangat bersahaja.
salam damai,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar